Senin, 04 September 2017

Walaupun beruang itu beruang, dia tetep hidup sederhana

Beruang itu hidupnya sederhana walaupun dia beruang. Beruang hidupnya masih di hutan, ada juga yang di kutub. Nggak pernah kepikiran pindah ke rumah mewah atau apartemen mewah di tengah kota. Padahal dia bisa beli, karena dia beruang. 
.
Beruang juga masih jalan kaki. Nggak kepikiran naik mobil mewah gituh. Padahal dia bisa beli, karena dia beruang. 
.
Walaupun beruang itu beruang, dia tetep hidup sederhana

ANGIN yang MENERPA

Ketika berdiri di atas tebing di tepi lautan, kita akan melihat birunya langit yang berdiri tanpa tiang, namun seolah bertemu dengan lautan jauh di ujung sana. Kita akan melihat deburan ombak yang berlari berkejar-kejaran dan menghempas tebing, menimbulkan suara gemuruh. Walau tebing tetap bergeming.
.
Namun ada hal yang tak terlihat, namun terasa menerpa wajah. Itu adalah angin. Angin itu seperti hasrat, motivasi, harapan. Ia tak terlihat, namun tetap ada dan bergerak di dalam jiwa. Yang terkadang menerpa wajah, mengingatkan akan hal-hal yang belum tercapai.

Cukup pahami....

Mengapa semut yang makanannya gula terasa pedas ketika termakan?
.
Mengapa lautan terlihat membiru?
.
Butuh ilmu untuk memahami logika. 
.
Namun tak perlu tuk memahami semua logika.
.
Dan takkan pernah bisa.
.
Tak perlu tuk menghitung setiap langkah yang dilalui.
.
Tak perlu menghitung berapa kali hembusan nafas.
.
Cukup pahami....
.
Tentang apa-apa yang seharusnya diperjuangkan.

Nggak semua yang berbayar lebih baik dari yang gratis

Nggak semua yang berbayar lebih baik dari yang gratis. Contohnya oksigen, mending menghirup oksigen yang berbayar dari tabung di rumah sakit atau yang gratis di alam bebas?
.
Atau cuci darah, mending yang berbayar di rumah sakit, atau yang gratis oleh organ tubuh?
.
Terus kenapa yang gratis yang setiap hari kita nikmati sering kita lupakan, kita anggap biasa, enggak istimewa, enggak berharga. Karena kitanya kurang syukur.

Kenapa obat nyamuk dipakai buat membasmi nyamuk? Padahal...

Kenapa obat nyamuk dipakai buat membasmi nyamuk? Padahal justru membuat nyamuk semakin berbahaya.
Contohnya nyamuk demam berdarah disebut sebagai nyamuk yang berbahaya. Padahal itu nyamuk kondisinya lagi demam. Kalo lagi demam aja udah bahaya gimana kalo tu nyamuk lagi sehat? Makin bahaya.
Nah, nyamuk demam berdarah kalo dikasih obat nyamuk bisa sembuh dia. Kalo tu nyamuk udah sehat, makin bahaya dia. Lagi demam aja udah bahaya.
Iya kan??

Di Kawah Putih Ciwidey, dikira di Pantai

Ini lagi liburan di kawah putih Ciwidey, tapi kok kaya di Pantai


Ketika wajah tiba-tiba berubah

Video macam-macam ekspresi ketika wajah tiba-tiba berubah


Banjir kok kayaknya malah seneng. Kira-kira kenapa ya?

Ini video kayaknya lagi kebanjiran, tapi kok malah seneng. Kira-kira kenapa ya?


Jumat, 07 November 2014

Bandung akan kembali dilanda Tsunami seperti 19 tahun yang lalu

19 tahun yang lalu lautan biru tumpah ruah di jalan-jalan di Bandung, seolah seperti tsunami yang menyebar ke seluruh kota. Tapi bukan air laut, melainkan iring-iringan kendaraan para bobotoh yang tumpah ruah di jalan untuk merayakan Persib juara di Liga Indonesia Pertama 19 tahun yang lalu. 

Saat itu aku dan beberapa temanku yang masih kelas 2 SD kalau tidak salah, seketika keluar berhamburan tuk melihat iring-iringan tersebut. Selain bobotoh, rupanya ada kendaraan yang membawa para pemain Persib kala itu seperti Robi Darwis dan kawan-kawan yang juga melewati jalan di depan sekolah kami. Beberapa teman-temanku bersahut-sahutan meneriakkan para pemain favorit meraka. Aku masih terlalu kecil untuk mengingat semuanya secara detail momentum saat itu. Terlebih saat itu aku belum begitu mengerti soal bola, apalagi menyukainya. Tapi rasanya aku bergidik, bergetar melihat euforia itu. 

Beberapa tahun kemudian, semenjak piala dunia 98, aku mulai menyukai sepak bola, dan di awal tahun 2000an rasanya aku benar-benar ingin menjadi pemain sepak bola. Kemudian aku masuk sekolah sepak bola. Terbesit dalam benakku euforia saat Persib juara, saat seluruh bobotoh tumpah ruah tuk merayakan kemenangan. Mengingat hal itu, saat itu terpatri dalam jiwaku tuk bisa menjadi bagian dari pangeran biru, mempersembahkan mahkota gelar bagi seluruh para bobotoh. 

Aku masih ingat betul, saat SMP, saat aku latihan di sekolah sepak bola. Aku dan beberapa teman kadang naik sepeda tuk menuju ke tempat latihan, kadang pula jalan kaki sekitar 2 Km, atau kadang pula ketika kita sudah lelah latihan, kita pun menumpang kendaraan yang lewat.

Saat SMA aku kembali masuk sekolah sepak bola. Kali ini tak bersama teman-teman, hanya aku sendiri yang masih menyisakan impian tuk jadi pemain sepak bola. Aku berjalan kaki sendiri, pulang dan pergi sejauh sekitar 4 KM ke tempat latihan. Walau kau tahu kawan, semuanya sirna. Impianku tuk membawa tropi bagi pangeran biru pun memudar dan semakin menghilang. Namun impian tuk melihat Persib juara, dan para bobotoh bereuforia merayakan kemenangan, tak pernah sirna. Walau bertahun-tahun lamanya Persib hanya bertengger di papan tengah. Walau telah berganti-ganti pelatih, mulai dari pelatih asing hingga lokal, walau telah banyak pemain asing berkualitas, dan pemain lokal  berlebel nasional diboyong. 

Tapi di tahun ini, rasanya kesempatan itu terbuka lebar setelah di semifinal, Persib mengalahkan Arema 3-1 dengan begitu dramatis. Kemudian Persib menghadapi Persipura di partai puncak. Banyak para bobotoh yang menjual barang-barang kesayangannya hanya untuk melihat Persib di laga puncak. Dan hal itu mengingatkanku akan tsunami 19 tahun yang lalu. Tsunami euforia saat Persib juara. Aku bergidik. Mungkinkah tsunami euforia itu terulang kembali di tahun ini?

Dan ternyata setelah melalui perjuangan yang menegangkan, Persib berhasil mengangkat trofi setelah sekian lama para bobotoh memendam rindu bertahun-tahun lamanya. Persib berhasil mengalahkan Persipura di partai puncak setelah melalui drama adu penalti yang menegangkan. Semuanya terharu. Segera saja setelah Persib juara, seluruh bobotoh tumpah ruah di jalanan malam tadi untuk merayakan kemenganan. Dan puncaknya mungkin akan terjadi minggu nanti di saat para pemain dan seluruh bobotoh merayakan euforia kemenangan di Bandung. Sebuah tsunami euforia setelah air kerinduan akan gelar itu terbendung 19 tahun lamanya.


 


Minggu, 02 November 2014

Gara-gara Sekolah di Angkasa, kuliah di Polban, kerja di MAU

Dulu aku sekolah di SMA Angkasa, kuliah di Polban, dan pernah kerja di PT. MAU. Gara-gara itu semua aku berkelahi dengan temen.

Tapi tunggu dulu!!! Ini cuma cerita fiksi. Peliss!!! Jangan dianggap serius. Secara aku orangnya baik hati, tidak pernah berkelahi, dan rajin menabung.

Jadi ceritanya begini.

Waktu sekolah di Angkasa, aku pun berangkat sekolah dengan berseragam putih abu-abu sambil menenteng tas. Di perjalanan, aku berjumpa dengan temenku itu, sebut saja Usro (nama disamarkan).

Kemudian si Usro menyapa,

“Woyyy val berangkat sekolah. Emang sekolah dimana??”
“Di Angkasa,” jawabku singkat.
“Wahhhh hebat euyyyy jiga astronot. Tapi naha sakola teh meuni jauh-jauh pisan di Angkasa. Rek naek pesawat naon kaditu euy??!!”

Aku nggak jawab apa-apa, cuma berkata dalam hati, “Pelis atuh laaaaaaah, bukan angkasa yang di langit keleusss --___--“. Waktu itu masih sabar.

 Terus waktu pun begulir seiring terbit dan tenggelamnya matahari.  Aku pun diterima kuliah di Polban. Suatu ketika, saat berangkat kuliah, aku bertemu dengan si Usro. Ia pun menyapaku lagi yang sudah beberapa tahun tidak bertemu.

“Woyyy Val, kamana wae. Nggeus kuliah ayeuna? Kuliah dimana?”
“Di Polban,” ucapku menjawab pertanyaan itu.
“Wahhh hebat di Polban, rek jadi Polisi. Wahhh mantap....!!!’ ucapnya girang.

Aku hanya diam sembari memicingkan mata, dan timbul tanda seru di atas kepalaku seraya berucap dalam hati, “Pelisss atuh laaaaah, Polban itu Politeknik Negeri Bandung, bukan Polisi Bandung keleusss T_T.” Aku mulai geram, tapi masih tetap sabar.

Waktu terus bergulir, sampai suatu ketika aku sudah bekerja di perusahaan yang bernama PT. MAU
Waktu berangkat kerja, pernah ketemu lagi sama tuh orang. Dia nyapa lagi dengan girangnya,

“Woyyy Val kamana wae, mau berangkat kerja?”
“Iya, mau.”
“Wahhh hebat, kerja di mana sekarnag euyy?”
“Di MAU,” jawabku.
“Iya, tadi kan udah jawab mau kerja, saya teh nanya, sekarang kamu kerja di mana??”
“Iya MAU,” jawabku lagi.
“Yeee itu mah kan udah tau. Saya teh nanya, kamu sekarang keraja di mana??!!” si Usro bertanya menaikkan volume suaranya.
“Iya, saya juga ngerti pertanyaan kamu. Saya teh jawab Saya kerja di MAU!!” aku juga ikut menaikkan volume suara.
“Ari maneh ngarti teu, saya teh pan udah nanya, kamu mau kerja? Kamu jawab mau. Terus saya nanya, kamu teh kerja di mana???!!” si Usro semakin naik pitam.
“Heyyy ai kamu naha jadi marah. Pan saya teh jawab pertanyaan kamu. Saya teh jawab MAU. Kamu yang nggak ngerti jawaban saya.”
“Yeeee Val, kamu kali yang nggak ngerti pertanyaan saya!!!”
“Heyyy saya udah jawab MAU...MAU...MAU..!!” aku pun ikut emosi.
“Yeee  kamu teh ngajak berantem, ditanya apa jawabnya apa. Mau saya tonjok??!!”
“Yee pan saya udah jawab MAU,” Aduh sial, keceplosan.
“Oke, terima ini... Bugggg........!!!!!
(--_#) Siaaaalllll...........!!!!